
|
Welcome, Friends! Free Talk ![]() Credits ![]()
| Secret #1
Tittle : Secret #1 Original Story by PHR Genre : Mystery, Adventure, and other
Gemuruh petir terdengar menakutkan. Angin bertiup kencang, menimbulkan suara gemersak semak-semak ikut membuat suasana menjadi horror. Hujan lebat turun ke bumi.
Aku dan Alexa, kakakku, tengah menghangatkan diri di depan perapian. Di meja kopi terdapat dua mug berisi cokelat panas buatan Alexa. Mom dan Dad sedang lembur di kantor. Hal yang sudah biasa bagi kami. Aku dan Alexa melakukan kegiatan tersendiri. Aku membaca novel dan Alexa... ia asyik memandangi kuku jarinya yang berkilau.
"Lex, aku lapar. Bisa buatkan sedikit makanan?" pintaku. Alexa merasa terganggu, ia berang.
"Oke, akan kubuat mini cupcake untuk camilan," ucapnya berang. Alexa pergi ke dapur. Sementara Alexa membuat makanan, aku kembali larut dalam novel yang tengah kubaca. Tak lama kemudian, Alexa datang sambil membawa piring berisi beberapa mini cupcake. Aku mulai melahapnya.
"Bagaimana? Sudah tidak lapar?" tanya Alexa dengan nada menyidir.
"Lumayan, tapi terlalu sedikit," jawabku usil. Alexa memukul pundakku pelan. Brakk... terdengar bunyi benda dibanting. Aku dan Alexa terlonjak kaget. Bunyi apa itu? tanyaku dalam hati.
Krieekk... pintu kamar Grandma Rose terbuka. Jantungku berdebar tak karuan. Alexa menyuruhku melihatnya. Dan impossible! Aku melihat sosok mirip Grandma Rose membuka lemari antik yang sudah bertahun-tahun tidak di buka. Ada sesuatu yang dicarinya. Aku menelan ludah, aku sangat ketakutan. Tiba-tiba pandangan Grandma Rose mengarah kepadaku. Matanya bewarna abu-abu pucat, tatapannya sendu.
"Grandma?" panggilku lirih. Aku berjalan mendekati Grandma Rose, seakan-akan aku terhipnotis.
"Di mana Grandpa-mu?" tanya Grandma Rose dengan nada marah.
"Err.. Emily tidak tahu... Bukannya Grandpa pergi ke luar negeri dengan keluarga Aunt Claire?" jawabku ragu-ragu. Grandma Rose mencengkeram sweeterku, aku berusaha melepaskan.
"Bohong! Aku sudah menyimpan mayatnya!" seru Grandma Rose keras. Ia mengamuk. Tangan Grandma Rose sangat dingin, kulitnya pucat.
"A..apa maksud Grandma dengan 'mayatnya' ?" tanyaku. Grandma Rose menatapku tajam lalu melepaskan cengkeramannya. Grandma berjalan ke arah jendela, menatap ke luar jendela. Aku melihat Grandma memakan sesuatu seperti.... daging. Mana mungkin Grandma bisa makan daging? Umurnya sudah 78 tahun! Lalu, semuanya menjadi gelap.
---
"Emily...," samar-samar kudengar suara Mom. Aku melihat cahaya yang sangat terang. Lama-lama, cahaya itu hilang dan tampak wajah Mom,Dad dan Alexa.
"Mom," ucapku lirih.
"Kamu sudah sadar, sayang? Untunglah!" ujar Mom tersenyum. Aku membalas senyum Mom.
"Aku di mana?" tanyaku.
"Semalam kamu pingsan di kamar Grandma," jawab Alexa. Tiba-tiba aku teringat kejadian tadi malam. Aku menempis ingatan berhantu itu.
"Ya sudah, sekarang kita sarapan dulu, ya! Mom sudah membuat sushi kesukaan Emily," kata Mom. Aku segera bangkit dari ranjang. Sejenak, aku memandang ke arah jendela. Tampak wajah Grandma Rose menyeringai. Begitu menyeramkan! Aku berkedip dan kembali memandang jendela. Tidak ada. Ternyata hanya halusinasi.
"Hari ini Mom dan Dad cuti, nanti kita harus ke rumah Aunt Zoë. Ada acara kumpul keluarga," jelas Mom saat sarapan. Aku hanya diam. Where are your Grandpa... suara Grandma terdengar lagi. Aku menutup telinga. Semua menjadi gelap. Aku masih mendengar suara itu. Dan...
To Be Continue~
|